Roma - Tiga belas tahun silam di Roma, Edwin Van der Sar harus menerima takdir pahitnya merasakan kekalahan adu penalti. Kini ia sudah melupakan kenangan itu dan sudah siap andai adu penalti harus kembali terjadi.

Stadion Olimpico Roma, 22 Mei 1996. Malam itu Van der Sar gagal mengamankan gawangnya dari empat eksekutor Juventus. Sementara itu portiere Juventus, Angelo Peruzzi, sukses menahan sepakan dua penendang Ajax Amsterdam di babak adu penalti.

Akhir cerita, Ajax takluk 2-4 di babak tos-tosan. Van der Sar harus rela melihat Juventus mengangkat trofi Liga Champions. Sebuah gelar, yang semusim sebelumnya diraih oleh Van der Sar bersama Ajax.

Waktu berjalan, Van der Sar semakin matang. Dua belas tahun berselang, di Moskow kiper jangkung itu harus kembali menghadapi adu penalti di final Liga Champions. Pria Belanda itu menjaga mistar Manchester United, sementara lawan yang dihadapi adalah Chelsea.

Van der Sar tersebut sukses menepis trauma masa lalu. Aksinya menghentikan eksekusi Nicolas Anelka, memastikan gelar juara Liga Champions jatuh ke pelukan MU.

Musim ini, Van der Sar bersama MU kembali menjejak laga puncak. Laga ini digelar di Stadion Olimpico, Roma. Tempat di mana tiga belas tahun silam ia berada di pihak yang kalah.

"Peristiwa tahun 1996 itu benar-benar ingin saya lupakan dan saya ingin juara Liga Champions bersama MU. Saya berharap saya bisa mengukir rekor bersama MU," tukas Van der Sar seperti dikutip dari Telegraph.

Ada pun rekor yang dimaksud oleh Van der Sar adalah menjadikan The Red Devils sukses mempertahankan gelarnya. Bahkan penjaga gawang berjuluk The Jolly Green Giant ini mengaku siap andai laga final nanti harus diselesaikan lewat adu penalti.

"Saya berharap bahwa kami menang. Bagaimana kami meraih kemenangan, saya tidak peduli. Kami akan melakukan apa pun demi mempertahankan gelar. Andai harus adu penalti lagi, saya tak khawatir," pungkas kiper yang akan menjalani final Liga Champions keempat sepanjang karirnya ini.

0 comments: