Liga Spanyol
Sepanjang musim panas, tanah Spanyol bergembira karena tim nasional mereka mengukuhkan diri menjadi "raja Eropa". Euforia pun berlanjut ke La Liga yang akan dimulai akhir pekan ini.
Ernst Happel Stadion di kota Wina, 29 Juni 2008, menjadi saksi bagaimana Spanyol akhirnya menjadi juara Piala Eropa untuk yang kedua kalinya. Itu merupakan trofi pertama mereka dalam 44 tahun terakhir, setelah sebelumnya menjuarai Piala Eropa tahun 1964.
Jadilah "tanah Matador" berpesta. Bintang yang baru tiba dari Austria-Swiss dielu-elukan bak pahlawan. Arti lain dari keberhasilan itu? Spanyol berhasil menyingkirkan isu kedaerahan yang biasa menghinggapi tim nasional mereka. Bukan rahasia apabila La Furia Roja didukung oleh pemain dari berbagai daerah di Spanyol seperti Basque, Catalan, ataupun yang merasa "putra asli Spanyol".
Keberhasilan tersebut sekaligus mengukuhkan bahwa Spanyol tidaklah layak dianggap sebagai kelas dua. Meski banyak yang menjagokan Jerman, Italia, atau Prancis sebagai juara, toh akhirnya mereka juga yang keluar sebagai pemenang.
Ungkapan di atas bak mengisyaratkan bahwa demikian jugalah liga mereka. La Liga memang tidak se-glamor Premier League ataupun setenar Seri A, tapi dari mana penguasa Liga Champions yang merupakan kompetisi tertinggi antarklub Eropa berasal?
Jadi, tak salah apabila La Liga musim ini seperti menjadi episode lanjutan dari euforia di Austria-Swiss bulan Juni lalu. Sebanyak 20 klub akan bertarung dengan beberapa di antaranya akan berusaha merebut mahkota juara musim lalu dari tangan Real Madrid--si pengoleksi trofi Liga Champions terbanyak itu.
Lalu, bakal jadi milik siapa euforia sesungguhnya dari musim kompetisi kali ini? Madrid dan Barcelona memang masih layak untuk dikedepankan. Los Blancos masih lapar gelar, itu mereka buktikan dengan menjuarai Super Copa Spanyol beberapa hari lalu. Seperti biasa kebiasaan mendatangkan bintang pun masih dilakukan. Kali ini yang tiba di Santiago Bernabeu adalah Rafael Van der Vaart.
Adapun Barcelona masih diliputi rasa penasaran. Dua musim tanpa tite juara La Liga--apalagi yang menjadi juara adalah Madrid--merupakansebuah dosa besar yang harus dibalas. Perombakan besar-besaran dilakukan demi sebuah era baru. Frank Rijkaard digantikan Josep Guardiola dan Ronaldinho tak lagi menjadi ikon di Nou Camp.
Meski demikian, ini bisa jadi bukan hanya balapan antara keduanya saja. Dalam dua musim terakhir Sevilla dan Villareal mulai berani merusak "keharmonisan" persaingan keduanya. The Yellow Submarine dan Los Rojiblancos bergantian masuk posisi tiga besar dalam dua musim terakhir, bersanding dengan Madrid dan Barca.
Bagaimana dengan Valencia? Tampil hancur-hancuran di liga musim lalu bisa menjadi pelecut semangat mereka sendiri. Hanya Los Ches yang mampu mematahkan dominasi Madrid dan Barca dalam menjadi juara La Liga dalam delapan musim terakhir. Mereka melakukannya pada musim 2001/02 dan 2003/04.
Kick off La Liga akan dimulai pada hari Minggu 31 Agustus 2008. Mari kita nantikan bagaimana kisah lanjutan dari euforia Spanyol.

0 comments:
Post a Comment